Senin, 23 Juli 2012

MUHAMMAD MUSTAFA AL-A'ZAMI



MUHAMMAD MUSTAFA AL-A'ZAMI, mulai mengenal lebih jauh tentang A'zami ketika saya banyak membaca buku-buku yang banyak mengutip pemikiran-pemikiran beliau seperti buku-buku tentang Kritik Hadis, Tanggapan-tanggapan terhadap pemikiran hadis Orientalis, serta karya-kraya beliau diantaranya Dirasat Fi Al Hadis al nabawi wa Tarikh Tadwin dan lain-lain. Beliau adalah salah seorang cendekiawan terkemuka di bidang ilmu Hadith, lahir di Mau, India pada awal tahun tiga puluhan. Pendidikan pertama di Dar al-`Ulum Deoband, India (1952), Universitas al-Azhar, Kairo, (M.A., 1955), Universitas Cambridge (Ph.D., 1966). Guru Besar Emeritus (pensiun) pada Universitas King Sa'ud (Riyad) dan beliau pernah menjabat sebagai kepala jurusan Studi Keislaman, dan memiliki kewarganegaraan Saudi Arabia. Profesor A'zami pernah menjabat sebagai Sekretaris Perpustakaan Nasional, Qatar; Associate Profesor pada Universitas Umm al-Qura (Mekah) ;
Sebagai Cendekiawan tamu pada Universitas Michigan (Ann Arbor); Fellow Kunjungan pada St. Cross College (Universitas Oxford) ; Professor Tamu Yayasan Raja Faisal di bidang Studi Islam pada Universitas Princeton, Cendekiawan Tamu pada Universitas Colorado (Boulder). Beliau juga sebagai Professor kehormatan pada Universitas Wales (Lampeter).
Karya-karyanya antara lain, Studies in Early Hadith Literature, Hadith Methodology dan Literaturnya, On Schacht's Origin of Muhammadan Jurisprudence, Dirasat fi al-Hadith an-Nabawi, Kuttab an­Nabi, Manhaj an-Naqd `ind al-`Ilal Muhaddithin, dan al-Muhaddithin min al­Yamamah. Beberapa buku yang dieditnya antara lain, al-` Ilah of lbn al-Madini, Kitab at-Tamyiz of Imam Muslim, Maghazi Rasulullah of `Urwah bin Zubayr, Muwatta Imam Malik, Sahih ibn Khuzaimah, dan Sunan ibn Majah. Beberapa karya al-A'zami telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa lain. Karya yang akan datang antara lain, The Qur'anic Challenge: A Promise Fulfilled (Tantangan AI-Qur'an: Suatu Janji yang Telah Terpenuhi), dan The Isnad System : Its Origins and Authenticity (Sistem Isnad: Keaslian dan Kesahihan­nya).

Pada tahun 1980 beliau menerima Hadiah Internasional Raja Faisal untuk studi keislaman.
Spesialis penakluk tesis kaum orientalis. Predikat itu tepat disematkan pada sosok Prof. Dr. Muhammad Mustafa al-A'zami, 73 tahun, guru besar ilmu hadis Universitas King Saud, Riyadh, Arab Saudi. Popularitas A'zami mungkin tidak setenar Dr. Yusuf Qardlawi dan ulama fatwa (mufti) lainnya. Namun kontribusi ilmiahnya sungguh spektakuler.

Sumbangan penting A'zami terutama dalam ilmu hadis. Disertasinya di Universitas Cambridge, Inggris, ''Studies in Early Hadith Literature'' (1966), secara akademik mampu meruntuhkan pengaruh kuat dua orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher (1850-1921) dan Joseph Schacht (1902-1969), tentang hadis. Riset Goldziher (1890) berkesimpulan bahwa kebenaran hadis sebagai ucapan Nabi Muhammad SAW tidak terbukti secara ilmiah. Hadis hanyalah bikinan umat Islam abad kedua Hijriah.


Pikiran pengkaji Islam asal Hongaria itu jadi pijakan banyak orientalis lain, termasuk Snouck Hurgronje (1857-1936), penasihat kolonial Belanda. Tahun 1960, tesis Goldziher diperkuat Joseph Schacht, profesor asal Jerman, dengan teori "proyeksi ke belakang". Hadis, kata Schacht, dibentuk para hakim abad kedua Hijriah untuk mencari dasar legitimasi produk hukum mereka. Lalu disusunlah rantai periwayatnya ke belakang hingga masa Nabi.


Namun belum ada sanggahan telak atas pikiran Goldziher-Schacht dengan standar ilmiah, selain disertasi A'zami. "Cukup mengherankan," tulis Abdurrahman Wahid saat pertama mempromosikan A'zami di Indonesia tahun 1972, "hanya dalam sebuah disertasi ia berhasil memberi sumbangan demikian fundamental bagi penyelidikan hadis." Gus Dur menyampaikan itu dalam Dies Natalis Universitas Hasyim Asy'ari, Jombang, tak lama setelah pulang kuliah dari Baghdad.


Temuan naskah kuno hadis abad pertama Hijriah dan analisis disertasi itu secara argumentatif menunjukkan bahwa hadis betul-betul otentik dari Nabi. A'zami secara khusus juga menulis kritik tuntas atas karya monumental Joseph Schacht, judulnya On Schacht's Origins of Muhammadan Jurisprudence. Versi Indonesia, buku ini dan disertasi A'zami sudah beredar luas di Tanah Air. Murid A'zami di Indonesia, Prof. Ali Mustafa Yaqub, berperan banyak memopulerkan pikiran ulama kelahiran India itu.


Ali Mustafa membandingkan jasa A'zami dengan Imam Syafi'i (w. 204 H). Syafi'i pernah dijuluki "pembela sunah" oleh penduduk Mekkah karena berhasil mematahkan argumen pengingkar sunah --sebutan lain hadis. "Pada masa kini," kata Ali Mustafa, "Prof. A'zami pantas dijuluki 'pembela eksistensi hadis' karena berhasil meruntuhkan argumentasi orientalis yang menolak hadis berasal dari Nabi."


Setelah lama mapan dalam studi hadis, belakangan A'zami merambah bidang studi lain: Al-Quran. Namun inti kajiannya sama: menyangkal studi orientalis yang menyangsikan otentisitas Al-Quran sebagai kitab suci. Ia menulis buku The History of The Qur'anic Text (2003), yang juga berisi perbandingan dengan sejarah Perjanjian Lama dan Baru. "Ini karya pertama saya tentang Al-Quran," kata peraih Hadiah Internasional Raja Faisal untuk Studi Islam tahun 1980 itu.


Sabtu pekan lalu, A'zami meluncurkan versi Indonesia buku itu dalam Pameran Buku Islam di Istora, Senayan Jakarta. Gus Dur, yang mengaku pengagum A'zami, bertindak sebagai panelis bersama pakar Quran dan hadis lainnya. Prof. Kamal Hasan, dalam pengantar buku itu, menilai karya A'zami ini relevan untuk meng-counter maraknya buku Hassan Hanafi, Nasr Hamid Abu Zayd, dan Mohammad Arkoun di Indonesia.


Kamal menyebut mereka sebagai "pengikut jejak orientalis". Tetapi Hanafi dan Abu Zayd juga dipromosikan Gus Dur di Indonesia, seperti halnya A'zami. Dua kutub kajian ini tampaknya perlu dibaca bersama. Wartawan Gatra Asrori S. Karni, Luqman Hakim Arifin, dan Nordin Hidayat, Ahad lalu, bertemu A'zami di Hotel Sahid Jakarta. Berikut petikan percakapan mereka:


Apa yang mendorong Anda menggeser objek studi dari hadis ke Al-Quran?
Al-Quran dan hadis keduanya pegangan penting seorang muslim. Keduanya sama-sama berasal dari Allah SWT. Selain itu, kini orang-orang Barat, para orientalis, banyak mengkaji Al-Quran sekehendak mereka. Mereka begitu ketakutan pada Al-Quran. Bagi mereka, Al-Quran seperti bom. Karena itu, mereka ingin ada proses peraguan (tasykik) atas kebenaran Al-Quran.


Studi orientalis generasi lama memang antipati pada Islam. Namun ada penilaian, arah kajian mereka akhir-akhir ini makin membaik: makin apresiatif dan empati pada Islam.


Apanya yang membaik? Bila Anda hendak menyimpulkan, jangan dari fakta parsial. Anda harus menyimpulkan dari keseluruhan fakta. Masih ada orientalis yang menulis sejarah Nabi dan mengatakan bahwa musuh terbesar manusia di dunia adalah Muhammad, Al-Quran, dan pedangnya Muhammad.


Dan problem mendasar kajian orientalis, mereka memulai kajiannya dengan tidak mempercayai Nabi Muhammad. Kita mengatakan, Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah. Menurut mereka, itu bohong besar. Jadi, mereka mengawali pembahasan dengan dasar pikiran bahwa Muhammad adalah pembohong, bukan rasul sebenarnya.


Mungkinkah mengkaji Islam semata-mata untuk tujuan studi, tanpa tujuan dan bekal keimanan, sebagaimana kaum orientalis?


Tidak mungkin. Agama apa saja, pada kenyataannya, sulit sekali mengkajinya tanpa keimanan. Kita lebih mudah mengkaji dan memahami Yahudi dan Kristen, karena kita percaya dan menghormati Musa, Harun, Maryam, dan Isa. Sementara orang Yahudi dan Nasrani tidak bisa memahami Islam, karena mereka mendustakan dan tak beriman pada Muhammad.


Bila Anda baca tulisan orang Yahudi tentang Isa dan Maryam, Anda akan temukan ungkapan mereka sangat kotor dan menjijikkan. Ada yang menuding Isa telah berzina tiga kali. Kalau penulisnya muslim, tidak mungkin bilang begitu. Haram! Karena kita memuliakan para nabi terdahulu. Persoalannya, berapa banyak orang Islam yang mau mengkaji lebih jauh tentang keyakinan Yahudi dan Nasrani? Sedangkan mereka sangat intens melakukan kajian tentang Islam.


Benarkah buku Anda sebagai counter atas corak kajian Al-Quran ala pemikir semacam Hassan Hanafi, Abu Zayd, dan Arkoun yang populer di Indonesia?
Ini bukan counter langsung. Tapi ada hal penting yang harus digarisbawahi di sini bahwa otoritas menafsirkan Al-Quran ada di tangan Rasulullah. Kita percaya, Al-Quran berasal dari Allah dan diturunkan pada Muhammad. Allah berfirman, "Dan kami turunkan Al-Quran pada kamu agar kamu jelaskan pada manusia." Sama saja, bila ada problem konstitusi di Indonesia, misalnya, maka yang berwenang membuat interpretasi adalah para hakim Indonesia. Meski meraih gelar doktor di Universitas Cambridge, saya tidak punya otoritas menyelesaikan problem konstitusi di Indonesia.


Jadi, kalau ada orang berpikir liberal, lalu menafsirkan perintah salat dalam Al-Quran semaunya, tidak mengindahkan tuntunan Rasul sebagai penafsir yang mendapat mandat dari Allah, maka saya katakan, "Siapa Anda? Siapa yang memberi Anda otoritas membuat tafsir sendiri?" Orang-orang seperti Hassan Hanafi dan Abu Zayd itu adalah "anak-cucu" Barat. Tak perlu meng-counter langsung mereka. Kecuali kalau terpaksa. Saya sebenarnya tidak peduli pada pemikiran-pemikiran mereka. Saya ingin membentuk pandangan saya sendiri.



Dalam pandangan Anda, apa yang membuat beberapa pemikir muslim menyerap pengaruh Barat? Tidakkah karena kekuatan argumentasi Barat?
Persoalan pokok sebenarnya adalah soal iman. Dari berbagai informasi, sangat nyata kebanyakan dari mereka adalah fasik (banyak berbuat dosa) dan sedikit sekali yang religius (mutadayyin). Mereka tidak puasa dan tidak salat. Ketika bulan Ramadan, subuh mereka bangun, makan pagi, tapi ketika magrib, ikut berbuka bersama lainnya, malamnya juga ikut sahur, ha, ha, ha....


Hasan Hanafi dan Nasr Abu Zeid misalnya, tidak belajar di sekolah-sekolah Barat. Tapi pemikiran mereka seperti mewakili pemikiran Barat. Mungkinkah?
Tentu. Karena buku-buku kajian mereka berasal dari Barat. Tapi Nasr Abu Zeid pernah belajar secara khusus di Jepang.


Kami pernah mengulas buku Prof. Christhop Luxenberg (nama samaran) yang berkesimpulan, bahasa asli Al-Quran adalah Aramaik, jadi yang beredar sekarang Quran palsu. Komentar Anda?
Ah, dia pemikir bodoh. Beberapa penulis mengomentari bahwa pengetahuannya tentang bahasa Syiriya-Aramaik sangat dangkal. Kata dia, Al-Quran berasal dari bahasa Aramaik, kemudian setelah 100 tahun beralih ke bahasa Arab. Sehingga disebut Quran kondisional. Itu sama sekali bukan kajian ilmiah.


Tidak. Sama sekali jauh dari pemikiran ilmiah…


Apakah ini merupakan salah satu cara dari para orientalis untuk merusak umat Islam?
Itu nggak ada artinya. Tapi sekarang beberapa kali dan akan berkali-kali, mereka menginginkan bahwa ketika Al-Quran dibuat tidak ada titik dan tasydid. Nah, sekarang mereka menginginkan agar Al-Quran diperbarui dari sisi titik dan tasydid-nya. Lalu, membacanya seperti yang kita kehendaki, memberi tanda-baca baru, dan menjadikannya baru. Al-Quran lalu menjadi Al-Quran sesuai kebutuhan (kondisional).


Apakah mereka juga memiliki kaidah dasar untuk membuat Al-Quran kondisional tersebut?
Kaidahnya ya sekehendak hati mereka. Karena mereka memberi tanda baca sesuai kebutuhan mereka.


Ada pendapat yang mengatakan bahwa Al-Quran merupakan produk budaya. Apa komentar Anda?
Itu pendapat Nasr Abu Zeid. Tapi apa yang sebenarnya disebut produk budaya? Ini tak ubahnya ketika orang menyebut “terorisme”. Semua berbicara terrorism. Tapi tidak pernah ada satu pun definisi yang muttafaq alaihi tentang terorisme. Terorisme justru kerap dikaitkan dengan Islam. Kita perlu memahami apa pengertiannya dulu.


Dalam hal ini, apakah pengertian produk budaya sama dengan asbabun nuzul (memahami Quran secara kontekstual)?
Tidak (sama). Memahami Quran secara kontekstual bisa dilakukan, jika “sesuatu” mempunyai kaitan dengan asbabun nuzul, tapi tak bisa diterapkan di semua tempat. Kecuali di beberapa tempat khusus yang merupakan sebab turunnya (ayat). Jadi, Anda tak bisa datang dan langsung mengatakan aqiimus shalat. Padahal di sana tidak ada asbabun nuzul, karena di sana adalah amr (perintah). Seharusnya, sebelum itu ada sebab. Allah adalah pencipta seluruh makhluk. Tentunya Dia tahu mana yang berbahaya dan bermanfaat bagi makhluk-Nya.


Jangan bermain dengan Api! Tidak ada …konteks di sini. Tidak hanya berlaku sekarang tapi selamanya.


Ini wacana yang elit. Apa hal penting dari buku Anda bagi orang-orang awam?
Saya tak bisa mengemukakan sesuatu untuk semua orang. Jadi saya sudah kepikiran untuk menulis buku baru, yang bisa dibaca dan dipahami oleh semua ummat Islam.


Anda pernah belajar dan lulus dari sebuah universitas di Barat. Tapi sikap anda tampak konservatif, dalam arti tidak liberal orang-orang seperti Hassan Hanafi atau Nasr Abu Zeid. Mengapa?
No! Saya kira ini pertanyaan dan persoalan tentang iman. Ha…ha..ha…


Menurut anda, apa yang salah dengan Barat?
Apa yang salah dengan Barat adalah sikap (attitude)-nya.


Apa tantangan terbesar bagi umat Islam saat ini?
Kitalah sesungguhnya tantangan terbesarnya. Karena kita tidak mempraktekkannya.


Man ghassa falaisa minna. “Barangsiapa yang menipu tidak termasuk golongan kami”. Kalau anda mengambil hadis dan mengujinya di dalam kehidupan (Adzami memberi contoh, bagaimana ia menemukan seorang penjual susu yang menempelkan hadis ini di atas tokonya, tapi ternyata ia menambah air dalam susu yang dijualnya). Meskipun Anda percaya Al-Quran dan Hadis, tapi dalam praktek kehidupan kita kita jauh dari sunnah. Ini salah satu kesulitan kita. Kalau kita menjadi good practicse-nya moslem. Saya tidak bicara tentang Islamisasi ilmu di sini. Tapi saya ingin menegaskan bahwa pengetahuan di Islam masih sangat jauh dari praktek. Islam itu sebenarnya pratek, bukan teori.


[Agama, Gatra Nomor 22 Beredar 11 April 2005]

Wawancara
Prof DR Muhammad Mustafa Al A'zami Ulama Hadist
Dalam lawatan pertamanya ke Indonesia, Al A'zami meluncurkan bukunya yang berjudul The History of The Quranic Text, From Revelation to Compilation, a comparative study with the old and new testaments (Sejarah Teks Alquran, dari wahyu sampai kompilasi kajian perbandingan dengan perjanjian lama dan perjanjian baru) yang diterbitkan PT Gema Insani. Dia juga sempat berkunjung ke Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, berdialog dengan 100 ulama Indonesia di Kantor Departemen Agama, serta bersilaturahmi dengan para muridnya di Pesantren Darussunnah, Ciputat, Tangerang.
Saat ditemui wartawan Republika Damanhuri Zuhri di sebuah kamar pada lantai 16, Hotel Sahid, Jakarta, tempatnya menginap selama berada di Jakarta, Al A'zami banyak bercerita tentang bukunya, berbagai upaya yang dilakukan kelompok di luar Islam untuk memerangi Alquran dan Alhadis, hingga kisah tentang anak dan kegemarannya pada makanan laut. Berikut ini petikan wawancara dengan Al A'zami yang didampingi muridnya, Prof KH Ali Mustofa Yakub MA, yang juga dikenal sebagai pakar hadis.
Buku yang baru diluncurkan itu ditulis selama empat tahun itu. Berapa lama penelitiannya?
Selama empat tahun itu secara keseluruhan dengan penelitian-penelitian, manuskrip, dan sebagainya.
Apa saja kendala dalam penulisan buku tersebut?
Kendalanya, kadang-kadang, perpustakaan yang bersangkutan tidak mengizinkan kami melakukan penelitian.
Selama ini ada orientalis yang mengobok-obok Islam, tapi Anda malah sebaliknya, mengobok-obok orientalis. Bisa diceritakan apa sesungguhnya yang terjadi?
Menurut saya, ini hal yang penting. Saya beri contoh. Anda punya kumis dan jenggot, saya juga punya kumis dan jenggot. Anda mengatakan, kumis saya bermasalah. Akan tetapi, Anda tidak mengatakan kumis dan jenggot Anda bermasalah. Mengapa? Ini yang perlu dipecahkan. Ini sebagai contoh saja. Mereka menganggap kita ada masalah dan tidak menganggap diri mereka ada masalah. Artinya, mereka tidak mau mengakui ada masalah. Karena itu saya katakan, kamilah yang akan melihat permasalahan Anda.
Karena itulah Anda kemudian masuk untuk mempelajari orientalisme?
Saya tidak mempelajari bangsa Barat, akan tetapi mempelajari agama yang dianut orang-orang Barat, agama yang berkembang di sana. Karena mereka menganggap orang Islam selamanya bermasalah, sekarang kita lihat agama mereka bermasalah apa tidak?
Masalah apa yang paling konkret Anda temukan dari mereka?
Yang penting, secara umum seorang penulis Muslim harus menulis apa yang bisa dimanfaatkan bagi para dai (pendakwah, red). Biarlah mereka yang kemudian memberikan penilaian. Kadang-kadang suatu topik oleh seorang penulis dianggap biasa-biasa saja, tapi bagi umat itu dianggap satu hal yang penting.
Contohnya?
Saya melihat contoh, misalnya, membandingkan keadaan orang-orang Islam, Kristen, dan Yahudi sepeninggal Nabi mereka. Ketika Nabi Muhammad SAW wafat, orang Islam menguasai politik yang sangat kuat, punya kemerdekaan, kebebasan berpolitik, dan sama sekali tak ada tekanan politik. Kondisi ini mendorong dan membantu penyebaran dan pemeliharaan agama. Dengan demikian mereka bisa menulis Alquran dengan bagus, tanpa ada tekanan dan sebagainya. Kemudian bisa menulis hadis dengan baik tanpa ada tekanan apa-apa. Dan ini menjadi salah satu unsur penunjang Alquran itu terpelihara keasliannya.
Berbeda dengan misalnya umat Kristiani sepeninggal nabi Isa AS. Mereka selama ratusan tahun berada di bawah tekanan politik sehingga memengaruhi penulisan kitab suci mereka sehingga memungkinkan terjadinya penyimpangan. Demikian pula umat Yahudi ketika Nabi Musa keluar dari Mesir. Selama empat puluh tahun mereka dalam kebingungan. Kondisi itu sangat memengaruhi warisan yang mereka terima dari Nabi Musa. Ini hal yang mendasar sekali mengapa Alquran dan hadis itu terpelihara sedangkan Taurat dan Injil tidak terpelihara. Ada faktor-faktor yang memengaruhi. Di samping itu, memang ada faktor-faktor alami yang datang dari Allah. Dan memang Allah menjamin kemurnian Alquran.
Jadi, selain memang Allah telah berfirman Inna nahnu nazzalnazzikro wa innaa lahu lahafidzun (Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Alquran dan Kamilah yang akan menjaganya, red), ada kondisi realitas yang sangat jelas sehingga Alquran tetap terjaga?
Ketika Allah mengatakan seperti itu bukan berarti nanti ada mukjizat lagi. Mukjizat sudah selesai. Itulah kemudian Allah dalam praktiknya membuat masyarakat seperti itu. Ketika Alquran harus dipelihara Allah, maka Allah menciptakan masyarakat yang seperti itu. Jadi, bukan berarti kemudian akan muncul mukjizat lagi dan sebagainya dalam pengertian tidak ada faktor yang bersifat manusiawi. Dalam penjagaan manusia itu diciptakan oleh Allah.
Melihat sosok Al A'zami adalah menyaksikan seseorang yang murah senyum, low profile, serta sangat tawadhu. Kata-katanya terlontar teratur. Bagi Ali Mustofa Yakub, Al A'zami termasuk orang yang tidak menyukai aturan protokoler, resmi-resmian. Dia justru lebih suka menyatu dengan jamaah. Alhasil, ketika akan dikawal bersama Menteri Agama, beliau tidak bersedia. Al A'zami bahkan masuk ke shaf-shaf dari belakang. ''Di Amerika juga begitu,'' ujar Ali Musthafa. Dia pun tampak sangat menguasai bidangnya, termasuk ketika diminta komentarnya tentang Aminah Wadud.
Belakangan, ada kasus menarik seperti pendapat DR Aminah Wadud yang berani menjadi imam wanita pertama dalam shalat Jumat dengan jamaah kaum pria. Adakah kesamaan dengan kasus Salman Rushdie dengan buku 'Ayat-ayat Setan' ataupun kelompok-kelompok lain yang ingin menyelewengkan Alquran dan Alhadis?
Seminggu sebelum saya berangkat ke Indonesia, surat kabar Ar-Riyadl yang terbit di Riyadh, Arab Saudi, 27 Maret 2005 memuat berita Uni Eropa minta kepada Turki dan orang-orang Turki yang ada di Eropa agar ketika khutbah Jumat mereka tidak menyebut firman Allah 'Innaddiina indallahil Islam (Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam, Alquran surat Ali Imran: 19). Orang-orang Eropa yang non-Muslim itu merasa tersinggung. Oleh sebab itu, bagi mereka memerangi Alquran adalah salah satu keharusan.
Lantas?
Yang menarik, mereka tak semata memerangi Alquran tapi juga menyebarkan tasykik (keragu-raguan, red). Sekarang strateginya berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Dulu, cara mereka membuat orang Islam ragu terhadap kitab sucinya adalah dengan mengatakan Alquran bukanlah wahyu tapi karangan Muhammad, yang isinya juga merupakan sekadar cuplikan-cuplikan dari ajaran Yahudi dan Nasrani. Cara mereka sekarang diubah dengan mengatakan Alquran tak lebih dari bikinan orang-orang dari abad ketiga Hijriyah. Artinya apa? Pada abad pertama dan kedua Hijriyah, tak ada yang namanya Alquran. Begitulah, mereka terus berusaha membuat keragu-raguan terhadap Alquran.
Sebagai Muslim, tindakan kita bagaimana?
Kewajiban kita, pertama, tuduhan-tuduhan itu bathil maka tindakan kita bagaimana? Harus membentengi akidah sehingga tidak mudah terpengaruh dengan tujuan-tujuan bathil tersebut. Kedua, bagaimana supaya kita tidak terpengaruh. Kita melihat contoh misalnya pada undang-undang dasar, ada kalimat-kalimat yang kemudian menimbulkan perbedaan pendapat. Seorang mengatakan bahwa ini dilarang. Itu penafsiran dia. Ketika dia punya guru andaikata gurunya masih hidup dan dia lebih tahu tentang arti ayat-ayat undang-undang itu, dia akan mengatakan, ''Ini nggak apa-apa seperti itu, sebab dia kan lebih alim dan lebih tahu tentang makna undang-undang itu daripada dia.''
Contoh lain misalnya buah duku. Seorang dokter mengatakan buah duku itu membahayakan kesehatan, ada lagi yang mengatakan tidak membahayakan. Yang berhak mengatakan apakah buah duku berbahaya atau tidak terhadap kesehatan adalah orang yang spesialis tentang buah duku. Ini sebuah jembatan keledai. Sekarang banyak orang menafsirkan Alquran padahal dia sendiri kadang-kadang baca Alqurannya saja sudah tidak benar. Bagaimana tahu dia? Makanya, untuk penafsiran Alquran harus diserahkan kepada orang yang spesialis atau ahli tafsir dan sebagainya. Jangan setiap orang baru tahu satu ayat terus menafsirkan Alquran. Baru ikut kursus dakwah terus menafsirkan Alquran.
Termasuk dalam kaitan ini kasus Aminah Wadud?
Soal Aminah Wadud, bagaimana kita harus percaya dia adalah seorang ahli Islam. Dia mungkin tahu Islam dari buku-buku bahasa Inggris, dia tidak bisa bahasa Arab dan sebagainya. Sekarang banyak orang yang ternyata tidak ahlinya tapi bicara seperti itu. Jadi, kalau kita mau tanya masalah agama tanya kepada ahlinya yang juga takut kepada Allah bukan sekadar ahlal aqli (ahli pikir, red).Kedua, Islam bukanlah agama kemarin sore. Mengapa kemudian shalat Jumat dengan imam Aminah Wadud menjadi masalah, padahal shalat Jumat itu sudah berlangsung selama 14 abad, bahkan jutaan ulama sudah menerangkan pendapatnya soal itu? Mengapa sekarang muncul seperti Islam baru (muncul) kemarin sore? Mengapa sekarang diributkan masalah seperti itu? Tujuannya, tidak lain, agar umat Islam ragu.
Lantas, mengapa banyak jamaahnya termasuk dari Indonesia?
Karena mereka menginginkan Islam itu dihancurkan. Pendukung mereka banyak dan didukung dengan segala macam. Yang menarik, ayah tiga putra yang kini berusia 75 tahun itu, masih tetap aktif menulis dan membaca bahkan berkunjung ke sejumlah negara sendirian. Tentang kiat sehatnya, Al A'zami secara terus terang berkata, ''Waktu kecil saya bekerja di sawah yang jaraknya untuk sampai ke ladang lima kilometer. Saya jalan kaki ke ladang itu. Dan, yang penting saya selalu banyak minum air putih,'' tuturnya.
Dalam usia berapa Anda mulai menulis?
Pertama kali saya menulis buku pada tahun 1960-an ketika berada di Qatar sesudah tamat dari Kairo, Mesir. Di Qatar, saya menjadi sekretaris Perpustakaan Nasional. Studi kitab adalah kalimat atau kata-kata India dalam bahasa awam Qatar (bahasa pasaran). Seperti juga banyak bahasa India, Urdu, yang menjadi bahasa Indonesia. Misalnya kata 'bahasa' itu dari India. Saya mengumpulkan kata-kata India yang kemudian menjadi bahasa orang kebanyakan yang dipakai di Qatar.
Berapa banyak kata India yang ditulis waktu itu?
Banyak sekali kalimat seperti itu sampai ratusan yang menjadi bahasa pasaran Qatar. Jadi, bahasa Qatar waktu itu ada pengaruh dari India karena ada hubungan dagang langsung antara Qatar dan Bombay. Itulah yang menyebabkan bahasa India banyak masuk ke wilayah Qatar. Begitu juga bahasa India yang masuk ke Indonesia seperti kata graha, sembahyang, puasa. Cuma, kalau di India puasa itu upuas, terbalik malah.
Tradisi menulis ini ada dalam keluarga?
Ayah saya, al-Syaikh Abdurrahman Al Maulawi, seorang ulama dan juga mengajar agama. Ayah saya juga menulis tetapi tidak dipublikasikan (dicetak).
Lantas, nama Al A'zami itu dari mana? Bukan nisbat keluarga?
Nama Al A'zami nisbat dari daerah Azamgarh. Saya berasal dari kota Mau Distrik Azamgarh negara bagian Uttar Pradesh. Jadi nama itu bukan nama marga melainkan nisbat daerah.
Soal kesehatan?
Menurut nasihat para dokter, orang seumur saya tidak baik makan daging yang merah seperti sapi, kerbau, lebih baik makan ikan kecuali ayam. Tapi, saya nggak senang ayam dan akhirnya saya memilih makanan laut seperti ikan maupun udang.
Bagaimana dengan anak-anak?
Saya punya tiga anak, dua putra dan satu putri. Putra yang pertama, Agil, sudah mendapatkan gelar doktor dalam bidang komputer dari Colorado, Amerika Serikat (AS). Putra kedua namanya Anas juga meraih gelar doktor dalam genetic engineering di Oxford, Inggris. Sedang anak ketiga doktor dalam bidang matematika dari Colorado, AS.
Kok, tak ada satu pun dari mereka yang mengikuti keahlian sang ayah, yakni ahli di bidang Alquran dan Alhadis?
Ketiga anak saya secara tidak resmi belajar Alquran dan Alhadis. Yang pertama, sarjana komputer. Ilmu komputer diterapkan untuk ilmu tentang masalah hadis. Anak kedua, sangat kritis sekali karena belajar di Barat. Kalau saya menulis, dia banyak sekali membantu saya karena bahasa Inggrisnya lebih bagus. Jadi, kalau saya membuat kalimat dalam bahasa Inggris sudah pas apa belum, itu tergantung dari koreksian anak saya yang kedua. Jadi mereka tahu sekali masalah hadis dan qiraat meskipun secara nonformal. Tapi, taraf berpikirnya sangat membantu saya.
Berapa cucu?
Baru tiga. Namanya Maryam, Umar, dan Ahmad.
Yang menarik, dalam usia 75 tahun Anda masih aktif menulis?
Pekerjaan saya membaca dan menulis, jadi bisa kapan saja. Tapi kadang-kadang dua jam menulis empat jam membaca atau dua jam menulis dua jam membaca. Jadi, menulis dan membaca itu selalu dikerjakan..