Senin, 23 Juli 2012

Bersikap Moderat Dalam Berinteraksi

 
Yang dimaksud moderat dalam padangan kita adalah keterlepasan diri dari hawa nafsu dan segenap tujuan-tujuannya yang hina dalam interaksi kita dengan Allah SWT dan mahluknya.Dalam pemahaman inilah pemerintah Abu Bakr Ash-Shiddiq berjalan di atas komitmen untuk mengikuti teladan-teladan kenabian hingga di tengah perang dan pertempuran sekalipun.Juga,diatas perjuangan untuk meniupkan jiwa Islam yang hakiki terhadap orang-orang kafir,orang-orang zalim dan orang-orang yang menentang kebenaran.Sehingga,mereka pun melihat gunung yang tegak menjulang karena kesabaran,ketegaran,kejujuran,kesungguhan,tebaran keadilan,kebajikan,pekerti,menepati janji dan tata krama.
Para sahabat menggambarkan Islam ini dengan sangat baik,tidak ekstrem dan juga tidak lalai.Begitulah yang terjadi di tengah-tengah mereka.Amirul Mukminin Sayidina Umar pernah berakta kepada salah satu budaknya saat penaklukkan terjadi dimana-mana.”Masuk Islamlah.Kalau engkau masuk Islam,aku bisa mengangkatmu sebagai petugas untuk mengurus harta orang-orang Islam(baitul mal,zakat,dll).Kami tidak mungkin mengangkat petugas untuk orang Islam dari pemeluk agama lain.
Budak itu bercerita,”Aku menolak ajakan Umar untuk masuk Islam.”Maka,Sayidina Umar berkata,
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama(Islam) (QS al-Baqarah [2]:256)
Lihatlah,betapa bagusnya Sayidina Umar dalam menawarkan dan mengajak ke dalam agama Islam.Juga,caranya memudahkan jalan menuju Islam,mengupayakan hal itu dan mendorongnya dengan kata-kata”Aku angkat engkau sebagai petugas.”Namun demikian setelah itu Sayidina Umar tidak memaksa,tidak membunuh,tidak bersikap ekstrem,tidak mengutuk dan tidak mengumpat beginilah Rosululah saw mendidik mereka padahal Sayidina Umar memiliki semangat kepedulian sangat tinggi dan berani.
Campur tangan hawa nafsu terhadapat ibadah kita dapat merusak ibadah itu serta membuatnya kehilangan ruh.Sehingga,Rasulullah memberikan penjelasan yang sangat jelas mengenai orang-orang yang tidak mengerti tentang cara melaksanakan perintah Allah dan menyikapi syariatnya.Mereka memerangi orang-orang Islam sebelum memerangi orang-orang kafir.Mereka menghalalkan darah dan kehormatan kaum Muslimin.Bersama dengan itu semua,beliau menyifati mereka degnan ibadah dan amal-amal salaeh yang kehilangan ruh.Beliau bersabda,”Shalat dan bacaan Al Quran salah satu dari kalian tidak ada apa-apanya dibandingkan shalat dan bacaan al Quran mereka.Kalau aku menututi mereka,niscaya aku bunuh mereka.”
Subhanallah,bagaiama bisa engkau membunuh orang-orang yang shalat itu?
Mereka dibunuh berdasarkan Hadist Nabi saw karena mereka telah keluar dari jalan yang benar,mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah SWT.Jadi,yang menjadi persoalan bukan lagi urusan bentuk luar dari ibadah dan iman,tapi hakikat (jiwa) yang bersemayam dalam hati.
Saudara-saudaraku sekalian..kita harus menanamkan prinsip-prinsip itu di dalam hati kita untuk bisa berjalan di atas landasan moderat.Landasan itulah yang menyebabkan para Sahabat Nabi kiat memperlakukan para tawanan dari kafir harbi dengan sangat baik,di saat-saat sengitnya konflik dan perang dengan mereka sekalipun.Dalam urusan makanan,para Sahabat mendahulukan mereka dibanding diri sendiri.Memberikan makanan paling baik yang mereka miliki.
Ada roti ada kurma.Kurma lebih melimpah di Madinah dibanding roti.Menurut mereka,roti adalah makan terbaik,maka merekapun memberikan roti itu kepada para tawanan Badar.Yakni,70 orang musyrikin yang telah memerangi mereka,juga memerangi Nabi saw,mengusir beliau dari negerinya,serta selalu menyakiti beliau selama di Mekkah.
Demi Allah,Rasulullah saw memerangi bukan karena menuntaskan dendam,bukan karena ada kepentingan dan tujuan-tujuan pribadi.Tapi,demi Allah karena menegakkan agama Allah agar menjadi mulia.

Dikutip dan di edit dari Kitab Al Wasathiyah Fil-Islam Karya Habib Umar Bin Hafidz
Terjemah Bahasa Indonesia dengan Judul ” Agama Moderat “
Ulama Salaf Tarim Hadramaut,Yaman